Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Horor Seram yang Berjudul Hantu Pohon Randu

Cerita Horor Seram yang Berjudul Hantu Pohon Randu


Assalamualaikum. Selamat datang kembali di Coretan Karya. Terima kasih sudah mampir. Kali ini kami mempersembahkan cerita horor seram yang berjudul Hantu Pohon Randu. Jangan lupa share, ya. Kamu juga bisa menonton cerita-cerita di sini dengan mengunjungi youtube Cerita Keren. Cari saja di kolom pencarian youtube "Cerita Keren".

Bagi teman-teman penulis yang bukunya hendak direview dan masuk ke sini, boleh langsung hubungi Zahra Wardah, ya. Terima kasih dan semoga harimu menyenangkan aamiin.

****


“Buk, icu apa?” Pertanyaan itu keluar dari mulut kecil Aisyah seraya menunjuk ke atas pohon randu. Anak usia dua tahun dengan logat yang masih belum sempurna.

“Mana, Dek? Enggak ada apa-apa, kok.” Kepala dan pandangan Hilma menyisir ke segala arah. Dia tak menemukan apa-apa kecuali hanya deretan pohon randu di sepanjang jalan. 

“Icu.” Mulut Aisyah sampai maju ke depan beberapa sentimeter. 

“Ayok, pulang, Ma. Isyah takut,” sambung Aisyah sembari bersembunyi di belakang tubuh ibunya.

Jelas di wajah Aisyah ketakutan. Dia minta gendong Hilma. Keinginannya untuk beli es di warung tetangga menguap begitu saja. Aisyah minta pulang. Lama kelamaan dia menangis, kejer. Hingga Hilma pun membawanya pulang. Niat untuk ke warung urung.

“Iya, sudah ayok kita pulang. Tapi, diam, ya.” Hilma pun panik. 

Tangannya menepuk-nepuk punggung Aisyah di gendongannya. Berharap Aisyah tenang. Langkahnya juga dipercepat. Suara azan magrib dari masjid pun satu per satu menggema. Untungnya mereka jalan belum terlalu jauh dari rumah, hingga tak butuh waktu banyak untuk sampai kembali ke rumah. 

“Kenapa Aisyah, Bu?” tanya Farul, suami Hilma yang mendengar tangisan putrinya. 

“Tadi dia lihat sesuatu di pohon randu di jalan itu,” adu Hilma saat baru saja masuk ke rumah.

“Emang lihat apaan?” Farul penasaran. Dia mengambil alih untuk menggendong Aisyah. 

“Enggak tahu. Yang lihat Cuma dia. Pas dia tunjuk enggak ada apa-apa,” jelas Hilma.

“Ya, sudah cepetan tutup pintunya. Orang mau salat Magrib,” titah Farul sembari menenangkan Asiyah yang masih menangis. 

***

“Mas, Mas, berhenti dulu.” Hilma menyetop mendadak suaminya yang sedang menyopir motor. 

Farul dengan terpaksa mengerem motornya. Pagi ini mereka hendak ke pasar. Tak ada jalan lain kecuali melalui jalan yang kemarin dilalui oleh Hilma dan Aisyah. 

“Oh, di sini. Makanya lain kali kalau sudah hampir masuk waktu magrib itu jangan keluyuran. Kasihan Aisyah itu nangisnya lama banget kemarin.” Farul menasihati Hilma sembari melajukan kembali motornya.

“Iya, iya, Mas. Lagian kemarin itu, kan, Aisyah yang mau minta jajan. Enggak mau nunggu siap Magrib dia. Harus sekarang juga.” 

Baru saja mulut Hilma menutup, kepalanya seperti ada yang melempar batu. Namun, tak tahu siapa dan dari mana batu itu. Padahal kondisi di sekitar sepi.

“Aduh. Sakit sekali,” keluh Hilma.

“Kenapa, Dek?” Farul menurunkan kecepatan motornya. Dia khawatir dengan istrinya.

“Kepalaku sakit, Mas. Coba berhenti dulu. Tolong cekkan kepalaku.” Hilma menepuk-nepuk pelan punggung Farul.

Dengan cekatan Farul memberhentikan motornya. Padahal sebentar lagi sudah sampai rumah. Lelaki itu turun, lalu mengecek kepala Hilma. Alangkah terkejutnya dia.

“Ya Allah, Dek. Kepalamu berdarah.” Farul panik.

“Ayok cepat ke bidan. Biar diobati.”

Farul kembali mengendarai motornya. Kini tujuannya bukan rumah, melainkan rumah bu bidan setempat. Hanya berjarak beberapa menit saja dari posisi saat itu. Benar saja beberapa menit kemudian, motornya sudah sampai di halaman rumah bidan. Farul menggandeng istrinya. 

“Bu, bagaimana ini? Tolong cek kepala istri saya.” Setelah mengucap salam Farul langsung memberondong Bu Yeni, bidan di kampung Farul.

“Oke. Tenang dulu, ya. Biar saya cek. Tolong bantuin nyopot jilbabnya bentar, Pak.” Bu Yeni mulai memeriksa kepala Hilma. 

“Ini butuh dijahit sedikit. Enggak pa-pa. Pakai bius, kan, enggak sakit,” lanjut Bu Yeni.

Hilma dari tadi diam. Akan tetapi, dalam hatinya ketakutan. Untung saja Aisyah sudah dititipkan di neneknya, jadi dia tak perlu menyaksikan kepala ibunya dijahit.

“Yang penting bisa cepat sembuh, Bu,” timpal Farul. Dia meyakinkan Hilam dengan tatapannya. 

Awalnya Hilma ragu, tetapi dia sadar hal itu untuk kebaikannya. Akhirnya Hilma menyetujui saran Bu Yeni. Hilma dan Farul menceritakan hal yang terjadi barusan.

“Oh, di jalan yang banyak pohon randu itu, kan? Kemarin juga ada yang cerita. Di sana itu ada penunggunya. Jangan sampai kita cerita yang aneh-aneh atau gangguin mereka di sana. Anaknya Pak Qodri kemarin sampai kesurupan main sore-sore di sana. Katanya dia lihat orang besar, hitam, wajahnya datar, dan menyeramkan setelah sadar,” Bu Yeni bercerita panjang lebar. Hal itu juga supaya Hilma rileks dan pekerjaannya cepat selesai.

“Iyakah, Bu?” tanya Hilma.

Baca juga: Beberapa Teks Puisi tentang Kehidupan dan Ramadhan

“Iya,” jawab Bu Yeni dengan nada yang meyakinkan. 

“Ya Allah. Baru kemarin Aisyah juga nangis kejer enggak berhenti-henti.” Kali ini Farul ikut menanggapi.

“Yang penting kita selalu minta perlindungan kepada Allah. Lagian mereka juga, kan makhluk Allah. Kenapa kita harus takut?” Layaknya bu ustazah, Bu Yeni mengingatkan kepada pasiennya.

Dalam waktu lima belas menit pengobatan selesai. Setelah menerima obat dan membayarnya, Farul dan Hilma lekas undur diri. Mereka berdua mengkhawatirkan putri semata wayangnya. Rumah nenek Aisyah kebetulan di sebelah rumah mereka. Jadi, mereka tak perlu jauh-jauh menjemput Aisyah. 

“Mas, belanjaannya?” Hampir masuk ke rumah, ternyata belanjaan mereka tertinggal saat motor mereka berhenti karena Hilma kesakitan kepalanya.

“Ya ampun. Ketinggalan, deh.” Farul dengan segera kembali mengendarai motor ke tempat belanjaan tertinggal.

***



Karya: Zahra Wardah

Ilustrasi: pixabay.com