Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Singkat tentang Kehidupan yang Berjudul Simpananku

Cerpen Singkat tentang Kehidupan yang Berjudul Simpananku



Assalamualaikum. Salam sejahtera semua. Selamat datang kembali di Coretan Karya. Kali ini kami mempersembahkan cerpen singkat tentang kehidupan yang berjudul Simpananku. Jangan lupa share, ya. Silakan mampir juga ke youtube: Cerita Keren untuk mendengarkan cerita-cerita di sini. Terima kasih dan semoga harimu menyenangkan. Aamiin

Oh, ya bagi teman penulis yang hendak bukunya direview dan masuk ke blog sini, silakan langsung hubungi Zahra Wardah.

****

Matahari sedikit mengintip dunia. Aku menghirup udara pagi yang segar tak seperti biasanya. Pun semangat untuk mengais nafkah kali ini membuncah. Namun, tidak saat melihat istriku. Rambutnya yang tak disisir, baju daster yang warnanya sudah mulai pudar, wajahnya yang berjerawat sukses menodai pemandanganku pagi ini.

“Mirna! Mana tasku!” Teriakku dari teras rumah.

“Tunggu, Mas.” Dia sedikit berlari dari dalam rumah dengan anakku di gendongannya.

Setelah dia memberikan tas kerjaku dan mencium telapak tanganku, aku bergegas masuk ke mobil hitam yang sudah siap meluncur. Biasanya aku selalu mengecup pucuk kepala Mirna, tetapi kali ini tidak. Seperti yang kubilang sebelumnya, rambut Mirna tampak tak terawat dan bau karena jarang keramas. Jorok, bukan? Dari situ, rutinitas mencium pucuk kepala tak lagi kulakukan. Malas.

Perjalanan dari rumah ke kantor hanya butuh sekitar sepuluh menit. Rasanya seperti orang yang keluar dari penjara. Senang sekali saat sudah keluar dari rumah. Lega rasanya tak ada tangisan bayi terus menerus dan omelan Mirna. 

Sesampai di kantor para karyawan kantor menyapa dengan senyum semangat mereka. Aku pun tertular mereka. Sebagai manajer di kantor ini aku sangat dihormati bawahanku. Terbukti setiap tugas yang kuberikan, mereka melaksanakan dengan bagus. Akan tetapi, ada satu karyawan baru yang sukses menjadi perhatianku. Dia sangat manja dan berusaha mendekatiku. Secara pribadi.

Wanita ini juga yang membuatku semangat bekerja pagi ini. Hesti namanya. Herannya aku tak sanggup menolak tiap kali dia datang ke ruanganku, lantas duduk di pangkuanku. Bibir merahnya sukses menyegarkan pandanganku. Selain itu tutur kata yang keluar pun semanis madu. 

“Mas, kali ini kita makan siang di mana?” 

Suaranya begitu merdu di telingaku. Aku selalu menurutinya makan siang di luar kantor berdua. Sampai-sampai sering dia mengadu ada karyawan lain yang iri kepadanya karena bisa dekat denganku. 

“Bilang saja kamu, kan, pintar dan berkompeten jadi aku suka denganmu,” kataku setiap kali dia curhat tentang rekan-rekan kantor yang menggosipkannya.

Sudah sebulan dia bekerja di perusahaan ini. Makin hari keberaniannya makin menjadi. Selain duduk di pangkuan, tangan halusnya pun sesekali menyusuri area wajahku. Aku menikmatinya. Sudah pintar, percaya diri, dan pemberani lagi. Aku tertarik kepadanya, hingga suatu hari ungkapan cintaku terbalas dengan indah. Dia mau menerima apa adanya, meski sudah kuceritakan semua tentang diriku. Termasuk istri dan anakku. 

“Aku rela menjadi yang kedua, Mas,” ucapnya usai mendengar semua ceritaku.

***

“Hari ini lembur lagi, Mas?” tanya Mirna. Tatapannya sendu, tetapi tak ada lagi rasa untuknya. Yang ada hanya muak. 

“Iya.” 

Aku segera menghabiskan sarapan untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dari Mirna. Lantas, aku berlalu tanpa tahu ekspresi Mirna. Seminggu ini Mirna percaya-percaya saja dengan alasanku pulang larut malam. Padahal dari kantor tak ada pekerjaan khusus yang mengharuskan kerja lembur. Satu-satunya alasanku bohong kepada Mirna adalah Hesti. 

Iya, hubungan kami semakin intens. Selepas jam kerja, aku dan Hesti pulang bersama. Lantas, aku pun mampir ke kosnya. Awalnya aku menolak Hesti untuk masuk ke kamar kosnya. Akan tetapi, Hesti memaksaku. 

“Tenang saja, Mas. Di sini bebas, kok. Enggak akan ada yang marah jika penghuni kos mengajak masuk teman lawan jenis.” Hesti meyakinkanku.

Akhirnya aku mengikuti maunya. Masuk ke dalam kamar yang tak terlalau luas itu, tetapi ber-AC. Di dalamnya terdapat kamar mandi dan dapur kecil. Di kamar itu Hesti tinggal seorang diri. Aku duduk di tepi ranjang. Sementara Hesti, dia menuju dapur. Sepertinya sedang menyeduh teh. Tak lama kemudian, dia kembali dengan dua cangkir teh.

“Diminum dulu, Mas. Supaya ngobrol kita lebih hangat,” ujar Hesti lengkap dengan senyum manisnya. 

Siapa yang bisa menolak jika ada wanita seperti itu? Aku menghidu aroma teh buatan Hesti. Seketika kepalaku terasa ringan. Berbeda dengan teh buatan Mirna. Makin kuminum, rasanya makin berat hidup ini. Hesti izin ke kamar mandi. Lima menit berlalu, Hesti keluar dengan pakaian yang sangat minim. Aku menelan ludahku sendiri. Dadaku terasa sesak. Mataku memelotot. Hesti makin cantik nan memesona.

“Kenapa melihatku begitu, Mas? Istri Mas tak pernah berpakaian begini di hadapan, Mas?” 

Aku menggeleng, kaku.

“Kasihan sekali kamu, Mas. Mau bermain denganku? Kita dalami hubungan kita di sini,” sambungnya tepat di telingaku.

Aku tak berkutik, berusaha mencerna perkataan Hesti barusan. Sejurus dengan itu, Hesti mengeluarkan alat kontrasepsi dari tangannya.

“Ayok, Mas. Tenang saja ada ini.” Tangannya menenteng alat itu.

Pertahananku hancur. Akhirnya kami terbuai, memadu kasih terlarang dan hal itu berlangsung sudah seminggu ini.

***

“Mas, ini baju Mas, kan? Kenapa begini?” Tiba-tiba Mirna mencecar saat aku baru saja masuk ke rumah.

Aku tak menghiraukan Mirna, berlalu begitu saja. Entah apa yang membuatnya begitu murka sampai-sampai aku yang sudah lelah bekerja ini dihujani oleh pertanyaan tak berguna. 

“Mas, tolong jawab, Mas!” pekik Mirna. 

“Aku capek. Nanti saja kita ba ....”

Aku tercengang kala melihat apa yang ada di tangan Mirna. Baju putih yang terkena noda lipstik milik Hesti. 

“Itu ....” Belum juga aku selesai menjelaskan kepada Mirna, dia langsung menyela.

“Aku minta cerai, Mas! Auk tahu akhir-akhir ini kamu bukannya lembur, tapi main dengan perempuan lain, kan? Mataku ada di mana-mana, Mas.” Bulir-bulir bening membasahi pipi Mirna. Dia berlari masuk ke kamar. 

Sementara aku? Aku bingung mau menjelaskan apa padanya. Satu sisi aku sangat mencintai Hesti. Namun, satu sisi lagi aku takut kehilangan Mirna dan anakku. Mirna tampak membereskan pakaiannya dan pakaian anakku.

“Aku mau pulang ke tempat orang tuaku, Mas. Tolong segera urus perceraian kita.” Dia keluar rumah menggendong anakku dan tangannya menggarit koper besar. 

“Mirna, tunggu!” 

Suaraku tak dihiraukan Mirna. Tiba-tiba rumah terasa hampa tanpa anak dan istriku. Akan tetapi, rasa itu hilang seketika saat ada panggilan telepon dari Hesti.

“Maaf, Mas menelepon Mas tanpa permisi.” Suaranya jelas sekali lembut. 

“Tidak apa-apa. Ada apa, Sayang?”

“Enggak ada. Hanya mau memastikan Mas sudah sampai selamat atau belum. Eh, istri Mas di mana?”

“Enggak usah tanya dia lagi. Dia pergi ke rumah orang tuanya barusan. Dia minta cerai,” jelasku, ketus.

“Maafkan aku, Mas. Gara-gara aku, ya, istri Mas minta cerai.”

“Sudahlah. Biarkan saja. Kita pikirkan masa depan kita saja. Lagian aku juga sudah muak dengannya. 

***

Aku memutuskan untuk menuruti keinginan Mirna untuk bercerai. Aku pergi ke pengadilan bersama Hesti. Hesti yang merengek untuk ikut. 

“Mirna?”

Baca juga: Beberapa Contoh Teks Puisi Modern

“Jadi perempuan yang menjadi simpanan suamiku itu kamu Hesti?” Mata Mirna menyeramkan seakan hendak keluar bola matanya saat melihat aku dan Hesti berjalan bersama.

“Kalian sudah saling kenal?” Aku menoleh Hesti dan Mirna bergantian.

“Iya, dulu sahabat di sekolah, tapi sekarang tidak,” ungkap Mirna, lantas berlalu meninggalkan kami berdua.

Setelah resmi dinyatakan cerai dengan Mirna, hidupku bukannya lebih nyaman melainkan makin terpuruk. Kinerjaku turun. Bos besar memberi surat peringatan untukku. Hesti pun menjauh dariku. Bahkan, dia keluar dari kantor dan pindah kos. Mungkin, dia merasa tak enak hati dengan Mirna karena telah memecah keluarga sahabatnya sendiri. Aku tak bisa menghubungi Hesti. Kini aku sadar keluarga adalah hal yang terpenting dari segalanya. 

“Maafkan aku, Mirna. Aku kangen kamu dan anak kita,” lirihku sembari memeluk foto anak dan istriku.

***


Karya: Zahra Wardah

Ilustrasi: pixabay.com